|
|
Gb. Kerbau
dan Burung Jalak
|
§
Komponen biotik dan abiotik bukan merupakan satu kesatuan yang tidak
berdiri sendiri dalam suatu ekosistem. Kompenen tersebut saling mempengaruhi
satu sama lainnya. Contoh: suatu tumbuhan dapat hidup dengan baik karena
air, tanah, udara dan cahaya matahari.
§
Hasil pernafasan pada makhluk hidup berupa karbndioksida yang akan dimanfaatkan
oleh tumbuhan oleh tumbuhan sebagai bahan fotosintesis
§
Makhluk hidup menghasilkan sisa pencernaan, bahkan mati sehingga nantinya
akan diuraikan oleh dekomposer. Hasil penguraian berupa unsur-unsur hara yang
kemudian dimanfaatkan kembali oleh tumbuhan untuk pertumbuhan
1.
Interaksi antar komponen biotik
§
Interaksi makhluk hidup terjadi di dalam ekosistem, baik saling
menguntungkan, menguntungkan salah satu pihak, maupun merugikan salah satu
pihak.
§
Interaksi terjadi karena untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga
makhluk hidup akan bergantung dengan makhluk hidup yang lainnya.
§
Diantara tiap komponen penyusun ekosistem terjadi interaksi: antar
organisme, antar
§
populasi, antar komunitas, antara komponen biotik dan komponen abiotik.
2.
Interaksi antar organisme
Jenis interaksi antar organisme antara lain: mutualisme, komensalisme,
Predasi, kompetisi, Parasitisme, Netral .
a) Mutualisme
Merupakan hubungan/interaksi antara dua organisme yang berbeda spesies yang
saling menguntungkan kedua belah pihak.
Contoh: Bakteri Rhizobium yang hidup pada bintil akar
kacang-kacangan, Kerbau dengan burung jalak.
b) Komensalisme
Merupakan hubungan antara dua jenis organisme yang berbeda spesies di mana
salah satu spesies diuntungkan, sedangkan spesies yang lain tidak
dirugikan/diuntungkan.
Contoh: tanaman bunga anggrek sebagai tumbuhan epifit pada tumbuhan mangga.
c) Predasi
Merupakan hubungan antara mangsa dan pemangsa (predator), hubungan ini
sangat erat sebab tanpa mangsa perdator tidak bisa hidup.
Proses interaksi yang terjadi bisa berupa antar hewan, hewan dengan
tumbuhan dan tumbuha predator dengan mangsanya. Jumlah populasi predator dengan
mangsa berbanding lurus.
Contoh: Singa memangsa rusa, kuda memangsa rumput, bunga Dionaea
muscipula yang memangsa serangga yang hinggap dijebakannya.
d) Kompetisi
Terjadi karena persaingan makhluk hidup untuk memperoleh kebutuhan hidup
dan kekuasan salah satu atau semua hal tersebut.
Contoh: Kuda dan sapi yang hidup di padang rumput yang sama akan saling
berkompetisi untuk memperoleh makanan (rumput).
e)
Parasistisme
Hubungan antar organisme yang berbeda spesies di mana akibat dari hubungan
tersebut terdapat pihak yang dirugikan (inang) dan pihak yang diuntungkan (parasit).
Contoh: Plasmodium dengan manusia, Taenia saginata dengan
sapi, benalu dengan pohon inang, kutu dengan manusia.
f) Netral
Merupakan hubungan yang tidak saling mengganggu antar organisme dalam
habitat yang sama, hal ini bersifat netral yaitu tidak diuntungkan dan juga
tidak dirugikan.
Contoh: Capung dengan sapi.
3.
Interaksi antar populasi
Contoh interaksi antar populasi adalah alelopati, yaitu
interaksi antar populasi di mana populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat
menghalangi tumbuhnya populasi yang lain. Pada mikrorganisme, alelopati dikenal
dengan istila anabiosa.
Misalnya: Rumput teki menghasilkan zat kimai yang bersifat toxic yang
dapat menghalangi tumbuhan yang lainnya, Jamur Penicillium sp menghasilkan
antibiotik yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu.
4.
Interaksi antar komunitas
Interaksi antar komunitas cukup kompleks karena tidak hanya melibatkan
organisme, tetapi juga aliran enrgi dan makanan. Interaksi ini dapat diamti
pada daur carbon (karena melibatkan ekosistem yang berbeda (laut dan darat).
5.
Interaksi antar komponen biotik dan abiotik
Interaksi ini
menyebabkan terjadinya aliran energi dalam ekosistem. Selain aliran energi di
dalam ekosistem juga terdapat struktur atau tingkatan trofik, keanekaragaman
biotik, serta siklus materi. Dengan demikian ekosistem dapat mempertahankan
keseimbangannya.
RANTAI MAKANAN DAN JARING-JARING MAKANA
A. Rantai Makanan
1. Pengertian
Secara etimologis,
rantai makanan dapat diartikan sebagai rangkaian yang tak terputus dari
kegiatan makan-memakan. Menurut Kurniawan dkk, rantai makanan merupakan alur
dari organisme yang saling memakan (2008: 226). Dalamhttp://id.wikipedia.org/wiki/Rantai_makanan menyebutkan bahwa
rantai makanan adalah perpindahan energi makanan dari sumber daya tumbuhan melalui
seri organisme atau melalui jenjang makan (tumbuhan - herbivora - carnivora -omnivora).
Menurut Campbell
dkk, a food chain is the sequence of food transfer from tropic level to
tropic level. Rantai makanan diartikan sebagai urutan perpindahan makanan
dari taraf trofi ke taraf trofi lainnya. Pendapat lain mengatakan bahwa rantai
makanan adalah perpindahan materi dan energi melalui proses makan dan
dimakan dengan urutan tertentu. Sedangkan menurut Prawirohartono (2004: 124),
rantai makanan adalah peristiwa memakan dan dimakan dengan urutan dan
arah tertentu. Berdasarkan beberapa pengertian diatas maka dapat disimpulkan
bahwa rantai makanan adalah kegiatan makan-memakan antara organisme yang
di dalamnya terjadi perpindahan materi atau energi.
Baik dalam rantai
makanan maupun jaring-jaring makanan, terdapat beberapa istilah yang harus kita
kita ketahui yakni :
a. Produsen
Merupakan kelompok
pertama dari rantai makanan yang biasanya terdiri atas tumbuh-tumbuhan hijau,
yang mengkonversi sebagian energi dari matahari (melalui fotosintesis) melalui
molekul-molekul organik yang digunakan dan disimpan dalam jaringannya. Pada
ekosistem air, produsen utamanya adalah alga, sering dalam bentuk uniseluler
yang membentuk fitoplankton.
b. Konsumen
Merupakan hewan-hewan
yang memakan tumbuhan hijau dan juga yang memakan satu sama lain. Konsumen
primer adalah herbivora yang memakan tumbuh-tumbuhan produsen primer. Konsumen
sekunder memakan konsumen primer, dan diikuti oleh konsumen tersier, kuartener,
dan seterusnya dalam rantai makanan.
c. Dekomposer (pengurai)
Terdiri atas bakteri,
jamur (fungi), tumbuhan atau hewan yang memakan organisme mati dan melepaskan
zat-zat organik yang dihasilkan dari organisme itu ke rantai makanan.
Contohnya seekor rusa yang mati di padang
rumput mungkin akan digerogoti oleh spesiespesies pemakan bangkai seperti
burung bangkai dan gagak. Zat-zat yang tidak dimakan mengalami penguraian oleh
bakteri dan jamur, sehingga bagian-bagian bangkai yang tidak dimakan oleh
burung gagak, menjadi tersedia bagi organisme-organisme lain.
2. Mekanisme Rantai Makanan
Pada rantai makanan
terdapat tingkatan/urutan organisme. Tiap tingkat dari rantai makanan
disebut tingkat trofi atau taraf trofi.
Karena organisme pertama yang mampu menghasilkan zat makanan (autotrof)
adalah tumbuhan maka tingkat trofi pertama selalu diduduki tumbuhan hijau
sebagai produsen. Tingkat selanjutnya adalah tingkat trofi kedua, terdiri atas
hewan pemakan tumbuhan yang biasa disebut konsumen primer. Hewan pemakan konsumen
primer merupakan tingkat trofi ketiga, yang terdiri atas hewan-hewan karnivora dan seterusnya sampai organisme mati
dan diurai oleh dekomposer. Hasil rombakan dari dekomposer dapat dipergunakan
kembali oleh organisme autotrof.
Berdasarkan jenis mata
rantai pertamanya maka rantai makanan dapat dibedakan atas dua yakni tipe
rantai makanan perumput dan tipe makanan detritus. Dua jenis rantai
makanan ini bisa terdapat dalam satu populasi atau beberapa populasi dalam
suatu ekosistem.
a. Rantai makanan perumput
(grazing food chain)
Adalah rantai makanan yang dimulai dari
tumbuhan sebagai produsen. Alur rantai makanan perumput dapat dilihat pada
gambar berikut :
Gambar 1. Contoh rantai makanan perumput.
Pada gambar (b) di atas, diketahui bahwa rumput yang bersifat
autotrof berperan sebagai produsen, kemudian dimakan oleh belalang, selanjutnya
belalang dimakan oleh kadal dan akhirnya kadal dimakan oleh burung elang. Pada
gambar (c), rumput sebagai produsen dimakan oleh belalang sebagai konsumen
pertama, belalang dimakan oleh katak sebagai konsumen kedua, katak dimakan oleh
ular sebagai konsumen ketiga, dan ular dimakan oleh elang sebagai konsumen
keempat. Selanjutnya jika elang mati, maka bangkainya akan di makan oleh
organisme lain dan diuraikan oleh bakteri pengurai.
b. Rantai makanan detritus
(detritus food chain)
Detrivitor adalah organisme yang memakan partikel-partikel organik atau
deutritus. Merupakan hancuran jaringan hewan dan tumbuhan. Rantai makanan
detritus adalah rantai makanan yang dimulai dari detritus atau organisme
pemakan sisa.
Adapun alur dari rantai makanan detritus
dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar 2. Contoh rantai
makanan detritus.
|
Pada gambar diatas,
diketahui bahwa detritus bisa berupa hancuran jaringan hewan atau tumbuhan.
Pada gambar (a), detritus berupa sisa jaringan hewan dimakan oleh ulat lalu
tikus, ular dan burung. Namun pada akhirnya, semua organisme tersebut dapat
menjadi detritus pula. Sedangkan pada gambar (b), detritus berupa
hancuran tumbuhan dimakan oleh kutu kayu yang selanjutnya dimakan oleh burung.
B. Jaring-Jaring Makanan
1. Pengertian
Pada uraian sebelumnya
tentang rantai makanan, dijelaskan bahwa setiap organisme seakan-akan hanya
memakan atau dimakan oleh satu organisme lain saja. Hal yang sebenarnya terjadi
adalah dalam suatu ekosistem tidaklah demikian. Tiap organisme mungkin memakan
atau dimakan lebih dari satu organisme dalam satu rantai makanan yang sama atau
makan dari rantai makanan lain. Ini biasanya terjadi pada hewan karnivora taraf
trofi tinggi.
Dalam ekosistem rantai
makanan–rantai makanan itu saling berkaitan. Kebanyakan sejenis hewan memakan
beragam, dan makhluk tersebut pada gilirannya juga menyediakan makanan untuk
berbagai makhluk yang memakannya, maka terjadi yang dinamakan jaring – jaring
makanan (food web). Jaring- jaring makanan merupakan
rantai-rantai makanan yang saling berhubungan satu sama lain sedemikian rupa
sehingga membentuk seperi jaring-jaring. Jaring-jaring makanan terjadi karena
setiap jenis makhluk hidup tidak hanya memakan atau dimakan oleh satu jenis
makhluk hidup lainnya.
Menurut Prawirohartono
(2004: 126), dalam ekosistem terdapat banyak rantai makanan yang saling
bertautan sehingga membentuk suatu jaring-jaring makanan. Lebih lanjut
dijelaskan bahwa jaring-jaring makanan adalah sekumpulan rantai makanan yang
saling berhubungaan.
Menurut Kurniawan dkk, jaring-jaring
makanan adalah bentukan dari banyak rantai makanan yang saling berhubungan
(2008: 226). Ekosistem yang terdiri atas banyak rantai makanan akan membentuk
jaring-jaring makanan.
Berdasarkan beberapa penjelasan dan pengertian di atas maka dapat
disimpulkan bahwa jaring-jaring makanan adalah kumpulan antara berbagai rantai
makanan yang saling berhubungan dalam suatu ekosistem.
2. Mekanisme Jaring-Jaring Makanan
Untuk menjelaskan tentang mekanisme jaring-jaring makanan dalam suatu
ekosistem dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar 3. Contoh jaring-jaring
makanan
Pada jaring-jaring
makanan tersebut terdapat beberapa rantai makanan di antaranya adalah sebagai berikut.
a. Padi → tikus → elang →
pengurai
b. Padi → tikus →
musang → elang → pengurai
c. Padi → burung → musang →
elang → pengurai
d. Padi → burung → elang →
pengurai
Pada gambar terlihat
bahwa semua aktivitas makan memakan diakhiri oleh pengurai. Hal ini menunjukkan
peran bakteri pengurai dalam ekosistem sangatlah penting yang berfungsi
menguraikan dan menghancurkan zat penyusun tubuh menjadi hara yang selanjutnya
zat hara ini kembali ke tanah. Dengan demikian pengurai merupakan penghubung
antara konsumen dan produsen. Dengan adanya pengurai, akan menjamin
ketersediaan zat hara sehingga kebutuhan tumbuhan akan zat hara tetap
terpenuhi.
Apabila tumbuhan hidup
subur, berarti tumbuhan tersebut menjamin ketersediaan makanan bagi herbivora.
Meningkatnya herbivora menjamin ketersediaan makanan bagi karnivora. Dengan
demikian dapatlah disimpulkan bahwa antara komponen dalam ekosistem yang satu
dengan lainnya senantiasa berinteraksi dan terjadi kesalingtergantungan.
Bentuk jaring-jaring
makanan yang lebih kompleks dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar 4. Contoh jaring-jaring makanan
yang lebih kompleks
Jaring-jaring makanan di
atas terdiri atas jaring makanan perumput dan detritus. Pada gambar terlihat
bahwa setiap organisme tidak hanya dimakan oleh satu organisme saja, tetapi
dimakan oleh berbagai organisme. Contohnya serangga yang terdapat pada daun
dimakan oleh tikus, bajing dan juga burung; atau rusa yang memakan salamander
dan hewan pengerat. Berdasarkan gambar dan uraian di atas maka dapat
disimpulkan bahwa dalam suatu ekosistem terjadi interaksi dan
kesalingtergantungan antar organisme guna kelangsungan hidupnya.
KESEIMBANGAN
LINGKUNGAN
Dalam
modul ini akan dikaji mengenai keseimbangan lingkungan. Lingkungan memiliki
kemampuan untuk mendukung kelangsungan hidup makhluk hidup di dalamnya disebut
daya dukung lingkungan.Modul ini dapat dipelajari secara mandiri,
kerja kelompok atau tutorial.
A.
KESEIMBANGAN LINGKUNGAN
Lingkungan
juga memiliki kemampuan untuk mengembalikan kondisi lingkungan ke keadaan
seimbang ketika lingkungan mendapat gangguan atau kerusakan sampai batas
tertentu yang disebut daya lenting lingkungan. Keseimbangan lingkunganberarti
kemampuan lingkungan untuk mengatasi tekanan dari alam maupun aktivitas
manusia, serta kemampuan lingkungan dalam menjaga kestabilan kehidupan di
dalamnya. Keseimbangan lingkungan dapat tercapai ketika interaksi antara
organisme dengan factor lingkungan dan interaksi antar komponen dalam suatu
lingkungan dapat berjalan dengan proporsional.
Interaksi
Antar Komponen Ekosistem dalam Menjaga Keseimbangan Lingkungan.
Aktivitas dan interaksi antar komponen ekosistem memungkinkan proses kehidupan terus berlangsung dan berkesinambngan. Interaksi antar komponen biotic dalam menjaga keseimbnganlingkungan dapat dilihat pada peristiwa rantai makanan dan jarring-jaring makanan. Pada rantai dan jarring makanan hubungan materi dan energi akan mengikat organisme yang satu dengan yang lainnya dalam suatu system yang teratur dan terarah. Adanya interaksi saling membutuhkan antar komponen biotic di rantai makanan dan jaring-jaring makanan , menyebabkan tidak akan ada satu pun satu pun komponen biotic yang populasinya akan bertambah terlalu cepat atau menurun drastic. Keseimbangan lingkungan juga tercipta bila interaksi antara komponen biotic dengan komponen abiotik berjalan dengan sesuai dan berkesinambungan. Faktor lingkungan seperti suhu, air, intensitas cahaya, kelembaban , dan salinitas dapat menjadi factor penentu persebaran organisme di muka bumi. Apabila factor-faktor lingkunganmengalami fluktuasi dengan drastic, populasi organisme yang ada pada lingkungan akan tersebut pun akan terpengaruh. Perubahan kodisi lingkungan abiotik dapat mengancam keseimbangan lingkungan.
Aktivitas dan interaksi antar komponen ekosistem memungkinkan proses kehidupan terus berlangsung dan berkesinambngan. Interaksi antar komponen biotic dalam menjaga keseimbnganlingkungan dapat dilihat pada peristiwa rantai makanan dan jarring-jaring makanan. Pada rantai dan jarring makanan hubungan materi dan energi akan mengikat organisme yang satu dengan yang lainnya dalam suatu system yang teratur dan terarah. Adanya interaksi saling membutuhkan antar komponen biotic di rantai makanan dan jaring-jaring makanan , menyebabkan tidak akan ada satu pun satu pun komponen biotic yang populasinya akan bertambah terlalu cepat atau menurun drastic. Keseimbangan lingkungan juga tercipta bila interaksi antara komponen biotic dengan komponen abiotik berjalan dengan sesuai dan berkesinambungan. Faktor lingkungan seperti suhu, air, intensitas cahaya, kelembaban , dan salinitas dapat menjadi factor penentu persebaran organisme di muka bumi. Apabila factor-faktor lingkunganmengalami fluktuasi dengan drastic, populasi organisme yang ada pada lingkungan akan tersebut pun akan terpengaruh. Perubahan kodisi lingkungan abiotik dapat mengancam keseimbangan lingkungan.
Suksesi
Gangguan lingkungan dapat berasal dari alam atau campur tangan manusia. Gangguan alam seperti kebakaran, gempa, badai tornado, dan letusan gunung berapi dapat menghancurkan komunitas biologis. Setelah ada gangguan alam akan memulihkan dirinya sendiri, organisme yang bertahan hidup akan melewati bencana akan mengkolonisasi area bencana. Pada proses pemulihan, struktur komunitas akan mengalami perubahan yang disebut suksesi. Suksesi adalah proses perubahan komposisi species dalam suatu komunitas biologi akibat adanya gangguan dari komunitas tersebut.
Gangguan lingkungan dapat berasal dari alam atau campur tangan manusia. Gangguan alam seperti kebakaran, gempa, badai tornado, dan letusan gunung berapi dapat menghancurkan komunitas biologis. Setelah ada gangguan alam akan memulihkan dirinya sendiri, organisme yang bertahan hidup akan melewati bencana akan mengkolonisasi area bencana. Pada proses pemulihan, struktur komunitas akan mengalami perubahan yang disebut suksesi. Suksesi adalah proses perubahan komposisi species dalam suatu komunitas biologi akibat adanya gangguan dari komunitas tersebut.
Suksesi
ada dua macam yaitu primer dan sekunder.
a. Suksesi
Primer : perubahan komposisi komunitas yang terjadi pada suatu kawasan yang
pada mulanya hamper tidak ada kehidupan. Bisanya terjadi pada pulau vulkanis baru,
atau pada lapisan glasies atau lapisan es. Biasanya diawali dengan tumbuhnay
tanaman pioneer atau perintis seperti lumut kerak / Lichenes
b. Suksesi sekunder : terjadi pada area yang mulanya ada kehidupan tetapi kemudian mengalami gangguan yang menyebabkan hilangnya komunitas yang ada di area tersebut dan hanya meninggalkan tanah yang tetap utuh. Contoh area penebangan hutan, area pasang naik dan pasang surut.
b. Suksesi sekunder : terjadi pada area yang mulanya ada kehidupan tetapi kemudian mengalami gangguan yang menyebabkan hilangnya komunitas yang ada di area tersebut dan hanya meninggalkan tanah yang tetap utuh. Contoh area penebangan hutan, area pasang naik dan pasang surut.
Suksesi
diakhiri dengan adanya komunitas klimaks yang bersifat stabil dan memiliki
tingkat keseimbangn lingkungan yang tinggi. Komunitas klimaks biasanya
didominasi oleh organisme yang memiliki umur panjang seperti pohon-pohon yang
berumur panjang.
Contoh
diagram suksesi primer
Gunung
meletus ——->Lava—->Lichenes/lumutkerak —->Lumut –> Tanamanpaku—–>Rumput—->Perdu——>Pohon/komunitas
klimaks
Contoh
diagram suksesi sekunder
Penebanganhutan
——->rumput ——–>perdu ——>pohon/ komunitas klimaks
B. DAMPAK
EKSPLOITASI
Meningkatnya
jumlah populasi manusia juga meningkatkan ancaman bagi lingkungan. Sikap
manusia yang cenderung merusak lingkungan memberikan dampak negative terhadap
ekosistem. Eksploitasi di luar batas oleh manusia memberikan dampak yang cukup
besar bagikerusakan lingkungan.Beberapa dampak negative akan diuraikan berikut
ini .
B. 1.
Fragmentasi dan Degradasi Habitat
Penggunaan
lahan untuk pemenuhan kesejahteraan manusia yang selalu meningkat jumlahnya
kadang tidak memperhatikan efek ekologis yang berakibat berkurangnya atau
rusaknya habitat alami bagi organisme di lahan tersebut. Fragmentasi terjadi
pada hutan yang ditebang/dirambah, pembangunan jalan yang melintasi hutan,
pembangunan berbagai sarana di pinggir jalan yang meleintasi hutan menyebabkan
perubahan struktur komunitas hutan, kematian pohon, kebisingan, polusi, serta
pengurangn lahn untuk habitat organisme asli.
Fragmentasi
dan degradasi habitat menyebbkan munculnya masalah lain seperti kematian
organisme karena hilangnya sumber mkanan, tempat tinggal sehingga berakibat
menurunnya keanekaragaman jenis pda habitat tersebut serta menyebabkan rantai
makanandan jarring-jaring makanan banyak yang terputus.
B.2.
Terganggunya Aliran energi di dalam Ekosistem
Ekosistem
buatan yang sengaja diubah oleh manusia menjadi ekosistem buatan menyebabkan
terganggunya aliran energi . Penebangan hutan dan digantikannya dengan
lading/sawah membuat ekosistem menjadi sederhana. Terjadi perubahan komposisi
dan keanekaragaman produsen, konsumen, detritivora, dn decomposer. Aliran
energi yang tadinya kompleks menjadi lebih sederhana dan berakibt rentannya
ekosistem terhadap kerusakan.
B. 3.
Resistensi Beberapa Species Merugikan
Penggunaan
pestisida dan antibiotic yang tidak sesuai takaran/dosis tidak dapat
memberantas hama atau pun kumanyan bersifat pathogen. Organisme pengganggu yang
tidak mati secara sempurna oleh pestisida atau pun antibiotic ini menjadi kebal
oleh pestisida dan antibiotic, Kekebalan ini diturunkan pada generasi
berikutnya sehingga akan lebih sulit memberantas hama dan menyembuhkan penyakit
yang disebabkan species yang telah resisten. Peningkatan kadar pestisida
ataupun antibiotic yang tidak terkendali akan lebih memperparah kondisikarena
species ini justru akan semakin resisten.
B.4.
Hilangnya Species Penting di dalam Ekosistem
Setiap
organisme dalam ekosistem memiliki peran sesuai jabatannya/ nicianya. Hilangnya
species tertentu dapat mengubah struktur rantai makanan dan jarring-jaring
makanan sehingga menjadi semakin sederhana. Menurunnya populas species tertentu
akan mempengaruhi jumlah populasi lain yang terangkai dalam rantai makanan.
B.5.
Introduksi Species Asing
Introduksi/masuknya
species asing dari satu ekosistem ke ekosistem yang lain biasanya bertujuan
untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Introduksi kadang terjadi tidak
sengaja terbawa oleh alat transportasi yang mengangkut barang dan ketika
mendarat/berlabuh ke suatu tempat meninggalkan spescies tersebut. Introduksi
species asing selain meningkatkan kesejahteraan manusia kadan juga merugikan
karena saat masuk ke suatu wilayah tidak disertai predator alaminya sehingga
sulit mengendalikan ledakan populasinya. Contohnya ledakan eceng gondok dan
keong mas yang bersifat mengganggu Kedua species itu bukan asli Indonesia.
B.6.
Berkurangnya Sumber Daya Alam Terbaharui
Sumber daya alam yang berasal dari makhluk hidup digolongkan sebagai sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Eksploitasi yang berlebihan dapat menyebabkan menurunnya jumlah organisme tersebut maupun mutunya. Contohnya adalah penebangan liar untuk mendapatkan kayu ataupu perburuan liar untuk mendapatkan gading, kulit, tanduk dan sebagainya.
Sumber daya alam yang berasal dari makhluk hidup digolongkan sebagai sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Eksploitasi yang berlebihan dapat menyebabkan menurunnya jumlah organisme tersebut maupun mutunya. Contohnya adalah penebangan liar untuk mendapatkan kayu ataupu perburuan liar untuk mendapatkan gading, kulit, tanduk dan sebagainya.
B.7.
Terganggunya Daur Materi di dalam Ekosistem
Seiring
dengan peningkatan jumlah penduduk, aktivitasnya pun juga meningkat. Hal ini
berakibat terhadap daur biogeokimia. Contohnya adalah pembakaran oleh manusia,
aktivitas penggunaan bahan baker yang berlebihan menghasilkan gas CO2 dalam
jumlah besar sehingga terjadilah pemanasan global.
C.
EKSPLOITASI BERLEBIHAN PADA EKOSISTEM DARAT DAN AKUATIK
C.1.
Ekosistem Darat
Ekosistem
darat meliputi semua bioma darat seperti hutan, padang rumput, taiga, tundra,
gurun dan sebagainya. Dari semua bioma darat yang paling banyak dimanfaatkan
dan dieksploitasi besar-besaran adalah hutan. Hutan memiliki banyak fungsi
diantaranya adalah :
1. Penyedia sumber bahan pangan, sandang, papan, dan obat-obatan
2. Penghasil oksigen dan Pengkonsumsi CO2 untuk fotosintesis karena banyaknya organisme autotrofik.
3. Sebagai resapan air dalam daur hidrologi
4. Sebagai habitat berbagai species
1. Penyedia sumber bahan pangan, sandang, papan, dan obat-obatan
2. Penghasil oksigen dan Pengkonsumsi CO2 untuk fotosintesis karena banyaknya organisme autotrofik.
3. Sebagai resapan air dalam daur hidrologi
4. Sebagai habitat berbagai species
Eksploitasi
hutan yang berlebihan / over eksploitasi akan berakibat :
1. menurunnya atau bahkan hilangnya species-species tertentu
2. berkurangnya oksigen dan peningkatan jumlah karbondioksida yang berakibat pemanasan global (berubahnya iklim global)
3. Terjadinya banjir, tanah longsor karena hilangya resapan yang mengganggu daur hidrologi
4. Hilangnya tempat tinggal, tempat berlindung, dan tempat segala aktivitas hewan yang tinggal di dalamnya.
1. menurunnya atau bahkan hilangnya species-species tertentu
2. berkurangnya oksigen dan peningkatan jumlah karbondioksida yang berakibat pemanasan global (berubahnya iklim global)
3. Terjadinya banjir, tanah longsor karena hilangya resapan yang mengganggu daur hidrologi
4. Hilangnya tempat tinggal, tempat berlindung, dan tempat segala aktivitas hewan yang tinggal di dalamnya.
C.2.
Ekosistem Akuatik
Ekosistem
aquatic pun tidak bebas dari aktivitas manusia untuk mengeksploitasi seperti :
1. pengambilan ikan untuk konsumsi/ ikan hias
2. pengambilan terumbu karang
3. pembukaan daerah wisata
1. pengambilan ikan untuk konsumsi/ ikan hias
2. pengambilan terumbu karang
3. pembukaan daerah wisata
Eksploitasi
ekosistem akuatik yang berlebihan/ overeksploitasi dapat berakibat :
1. menurun/ hilangnya species ikan atau hewan laut yang lain
2. hilangnya habitat hewan air akibat hilangnya terumbu karang
3. polusi, kerusakan ekosistem karena kegiatan pariwisata yang tidak dikelola dengan baik.
1. menurun/ hilangnya species ikan atau hewan laut yang lain
2. hilangnya habitat hewan air akibat hilangnya terumbu karang
3. polusi, kerusakan ekosistem karena kegiatan pariwisata yang tidak dikelola dengan baik.
D. UPAYA
MENJAGA KESEIMBANGAN LINGKUNGAN
Lingkungan
yang dieksploitasi secara berlebihan dapat berakibat menurunnya kualitas
linkungan. Perlu dilakukan upaya untuk menjaga keseimbangan lingkungan
diantaranya adalah :
1. penghematan penggunaan kertas, tissue, dan semua hal yang diproduksi dari bahan baku dari hutan
2. penghematan menggunaan bahan kimia yang dapat merusak lingkungan
3. penghematan penggunaan bahan baker
4. Menghentikan jual beli berbagai spesies hewan dan tumbuhan langka
5. Tidak membakar hutan
6. Penerapan system bercocok tanam yang memperhatikan lingkungan
7. Pengendalaian hama secara alami (metode biological control) dengan predator alami
8. Penggunaan pestisida dan antibiotic sesuai takaran
9. Pembangunan berwawasan lingkungan
10. Pengawasan produk impor untuk mencegah masuknya species asing yang merugikan
11. Penegakan hukum yang tegas bagi perusak lingkungan
12. Reboisasi, tebang pilih dan menghindari illegal loging/penebangan liar
13. Mencegah perburuan hewan dan penangkapan ikan secara liar
1. penghematan penggunaan kertas, tissue, dan semua hal yang diproduksi dari bahan baku dari hutan
2. penghematan menggunaan bahan kimia yang dapat merusak lingkungan
3. penghematan penggunaan bahan baker
4. Menghentikan jual beli berbagai spesies hewan dan tumbuhan langka
5. Tidak membakar hutan
6. Penerapan system bercocok tanam yang memperhatikan lingkungan
7. Pengendalaian hama secara alami (metode biological control) dengan predator alami
8. Penggunaan pestisida dan antibiotic sesuai takaran
9. Pembangunan berwawasan lingkungan
10. Pengawasan produk impor untuk mencegah masuknya species asing yang merugikan
11. Penegakan hukum yang tegas bagi perusak lingkungan
12. Reboisasi, tebang pilih dan menghindari illegal loging/penebangan liar
13. Mencegah perburuan hewan dan penangkapan ikan secara liar
PERAN KOMPONEN BIOTIK DAN ABIOTIK DALAM KEHIDUPAN
Di dalam ekosistem, komponen biotik dan abiotik merupakan
komponen pokok ekositem yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.
Komponen biotik dan abiotik dalam kehidupan memiliki peran sendiri-sendiri yang
saling berhubungan. Antara komponen biotik dan abiotik dalam kehidupan saling
mempengaruhi. Kedua komponen tersebut memiliki peran masing-masing yang saling
mendukung.
A. PERAN KOMPONEN BIOTIK DAN
ABIOTIK
1. Peran Komponen Biotik Dan Abiotik
a. Produsen
Produsen adalah kelompok penghasil makanan. Peran komponen biotik ini adalah menyediakan makanan/sumber makanan bagi konsumen tingkat I. Produsen ini umumnya merupakan kelompok tumbuhan hijau.
1. Peran Komponen Biotik Dan Abiotik
a. Produsen
Produsen adalah kelompok penghasil makanan. Peran komponen biotik ini adalah menyediakan makanan/sumber makanan bagi konsumen tingkat I. Produsen ini umumnya merupakan kelompok tumbuhan hijau.
b. Konsumen
Konsumen merupakan kelompok pemberi yang secara langsung dan tidak langsung menggunakan hasil dari produsen makanan bagi konsumen tingkat berikutnya. Konsumen juga berperan sebagai penyeimbang populasi dalam lingkungan.
Konsumen merupakan kelompok pemberi yang secara langsung dan tidak langsung menggunakan hasil dari produsen makanan bagi konsumen tingkat berikutnya. Konsumen juga berperan sebagai penyeimbang populasi dalam lingkungan.
c. Pengurai (dekomposer)
Pengurai merupakan kelompok pengurai sisa-sisa sampah makhluk hidup, atau makhluk hidup yang mati. (pemecah zat organik atau anorganik). Zat yang telah diurai dikembalikan ke tanah/lingkungannya lagi. Peran dekomposer dalam lingkungan adalah menghancurkan, makhluk hidup/tumbuhan yang telah mati dan dikembalikan ke tanah. Coba bayangkan jika di dunia ini tidak ada dekomposer.
2. Perana komponen Abiotik Dalam Kehidupan
Adapun peran komponen abiotik dalam kehidupan adalah :
a. Suhu
Makhluk hidup memiliki suhu optimum untuk kelangsungan hidupnya. Hal ini di sebabkan karena reaksi kimia dalam tubuh organisme dipengaruhi oleh kualitas suhu lingkungan. Pada umunya organisme senang hidup di tempat yang suhunya anatar 0º - 40ºC sebab pada suhu di atas 40ºC kebanyakan protein akan terurai dan rusak . adapun faktor-faktor yang mempengaruhi variasi suhu adalah lamanya penyinaran, kedudukan matahari terhadap bumi, dan cuaca.
b. Cahaya Matahari
Cahaya matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena sinar matahari menentukan suhu. Cahaya matahari merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai produsen untuk berfotosintensis. Tidak semua spektrum sinar matahari berguna unruk fotositensis, hanya spektrum merah, nila dan biru dibutuhkan dalam fotodintensis.
c. Air
Air merupakan terhadap ekositem karena air dibutuhkan untuk kelasungan hidup organisme.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar